Analisis Novel Sejarah : "Nyai Dasima" Karya S. M. Ardan

1. Identitas Buku

1. Judul: Nyai Dasima

2. Penulis: S.M. Ardan

3. Tebal: 138 hlm

4. Penerbit: Masup Jakarta 2007 (pertama kali 1965)

5. ISBN13: 9789791570619


2. Sinopsis 

       Nyai Dasima merupakan seorang gundik. Bahasa kerennya adalah wanita simpanan atau bini piare para meneer, di mana hubungan antar mereka tidak memiliki ikatan perkawinan. Nyai Dasima adalah wanita cantik yang memiliki banyak keahlian seperti memasak serta menjahit, dan sangat dicintai Tuan Edward W. Tuan Edward W sendiri merupakan pria berkebangsaan Inggris. Mereka berdua memiliki seorang putri bernama Nancy. Bersama Tuan W, Nyai Dasima diberi rumah besar lengkap dengan pembantu-pembantu, pakaian, makan, pokoknya hidup yang terjamin. Dengan kecantikan dan hartanya yang melimpah, banyak pria pribumi yang ingin merebut sang Nyai. Termasuk tukang sado (delman) Samiun yang sudah beristerikan Hayati. Samiun sudah “gerah” karena memiliki istri (Hayati) yang hobi main ceki alias judi. Mak Buyung diutus Samiun untuk “menggiring” Nyai Dasima agar mau menikah dengannya. Pada awalnya Nyai Dasima akan dirayu dan dipelet oleh Mak Buyung agar mau menikah dengan Samiun. Namun, Haji Salihun mencegahnya untuk menggunakan ilmu pelet. Dengan cara dirayu baik-baik, akhirnya Nyai Dasima menjadi istri ke-2 Samiun. Namun Tuan Edward mengirim pembunuh bayaran yaitu Bang Puasa untuk membunuh Nyai Dasima. Hal ini dilakukan Tuan Edward sebagai balas dendam karena Nyai Dasima sudah meninggalkannya dan Nancy. Nyai Dasima pun dibunuh secara keji dan mayatnya dibuang ke sungai.


3. Analisis Novel

3.1. Unsur Intrinsik

1. Tokoh dan Penokohana. 

TokohTokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh – tokoh dalam novel “ Nyai Dasima“ ini antara lain adalah sebagai berikut : 

· Dasima· Tuan Edward Williams· Samiun· Hayati· Mak Leha· Bang Puase· Dulo· Mak Buyung· Wak Salihun

Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh prosa fiksi dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh sentral / tokoh utama dan tokoh periferal / tokoh tambahan ( bawahan ). 

Berikut merupakan tokoh sentral dan tokoh periferal dalam novel “ Nyai Dasima“ :

Ø Tokoh Sentral· Dasima

Ø Tokoh Periferal· Tuan Edward Williams· Samiun· Hayati· Mak LehaBang Puase· DuloMak Buyung· Wak Salihunb. 

Penokohan

Penokohan merupakan penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Penokohan dalam novel “Nyai Dasima“ ini adalah sebagai berikut :

Tokoh, Watak, dan Penjelasan

Dasima · Berani mengungkapkan sesuatu hal· Sabar· Mudah terpengaruh· Penakut· penyanyang “Hampir tiap malam, Tuan terima tamu bangsanya, tapi saya tidak bisa ikut mereka, saya tidak bisa ketawa-tawa bersama mereka, saya tidak mengerti omong mereka,”(halaman 14, bagian kesatu)“tujuh tahun saya kesepian, jauh dari orang tua, jauh dari teman, jauh dari bangsa sendiri. Saya sering melamun sendirian, apalagi kalau malam dan Nancy sudah tertidur”.(halaman 14, bagian kesatu)“ Dasima terpengaruh, dan berkata, “ saya mau cerai dari Tuan supaya bisa diakui lagi sama orang tua, diakui lagi sama bangsa saya. Sudah lama saya ingin pulang, campur lagi sama teman-teman di Kuripan, . . .(halaman 45, bagian kedua)“Tapi sebentar lagi Tuan pulang. Nanti saya dapat marah.”(halaman 18)“Sebenarnya saya senang sekali di sini. Tapi saya ingat Mamcy, Mak.”(halaman 18)

Tuan Edward Williams · Suka menghina· Pembalas dendam “Tuan sudah tahu saya suka datang ke mari. Lantas lagi-lagi saya dihina sebagai orang kampung, Tuan amat marah.”(halaman 42, bagian kedua)“Tuan pikir saya tidak akan betah lama-lama di siini, tapi Tuan salah juga. Sebab itu saa takut, saya takut Tuan akan membalas dendam. Tentunya Tuan tidak akan tinggal diam, Lo.” (halaman 57, bagian ketiga)

Samiun · Egois· Putus asa “Kagak bisa laen, Wak. Nyai musti didapetin. Kalu kagak, bisa mati aye”.(halaman 21, bagian kesatu)“Lu kan lakinye, pantes dong tegor tu Hayati. Lu sih malahan ikut-ikutan kagak bener. Padahal kewajiban lu tu bawa Hayati ke jalan agame.”“Ude kagak mempan dibilangin, Wak,” jawab Miun.(halaman 22, bagian kesatu)

Hayati · Suka bermain ceki (berjudi)· Takut di tinggal kawin· Jahat, Mengambil sesuatu yang bukan miliknya dengan paksa “ Mpok Hayati kemane, Nyak?”Dengan suara keras Mak Leha berkata, “Kaye nyang nggak tau aje. Biase deh. Dari pagi ude pegi, tapi bukan nyari duit kaye si Miun. Hayati sih ngebuangin duit ... maen ceki!” (halaman 3, bagian kesatu)“Hayati mencoba menghentikan tangisnya. “Bang Puase bilang Miun ... Miun ... Miun kawin lagi,” dan menjerit lagi, “Un ... Miun.”(halaman 53, bagian kedua)“Tidak lama kemudian Hayati muncul lagi sambil membungkus kalung emas dengan sapu tangannya. Pada saat itu pula Dasima muncul kembali, kaget, “Pok ... mau dibawa kemana?” (halaman 61, bagian ketiga)

Mak Leha · Sabar· Perhatian “Dan Mak Leha coba bersabar” (halaman 8, bagin kesatu)“Umpamanye lu jadi kawin ame tu Nyai ... nanti ...,”“Ape sekiranye lu snggup ngempaninnye?”(halaman 37, bagian kedua)

Bang Puase · Mau melakukan apa saja asal mendapatkan uang· Suka mengancam· Suka malak “ ape lu kira gue orang sembarangan ? gue nih ... jangan lu samain ame Puase tuh nyang mau ngerjain ape aje asal dapet duit”. (halaman 21, bagian kesatu)“Ape nyang mane?”Sambil pegang goloknya Bang Puase mengancam, “E, lu mau nyobain golok gue si Mane Lagi, hah?”(halaman 25, bagian kesatu)“Ssst! Sini lu!” gertak sang jagoan. “Sini ...”“Duit setoran?” Bang Puase ketawa.Si tukang pukul Kwitang tolak pinggang, emangnye kenape?”(halaman 57, bagian ketiga

Dulo · Penakut “Ape lu!” gertak Bang Puase.Dulo meringis seperti mau menangis.(halaman 49, bagian kedua)“ Takut-takut Dulo menghampiri, dengan suara gemetar berkata, “Ade juga duit setoran, Bang.” (halaman 57, bagian ketiga)

Mak Buyung · Suka Menghasut “Tahulah Mak Buyung bahwa jalan untu “menggosok” Dasima telah terbuka, “pancing” mulai ddilemparkan, “Aah masa sih Nyai betah di sini. Rumenye pondok ampir rubu, jalannye becek kalu ujan, gelap kalu malem.” (halaman 13, bagian kesatu)“ itulah suatu pembukaan jalan, Mak Buyung tidak membuang kesempatan itu.”“ Dasima sudah masuk perangkap. Mak suka antar saya ke Kuripan?”(halaman 43, bagian kedua)Wak Salihun · Rajin beribadah· Taat agama “Ketika itulah dari kiri lewat Wak Lihun dengan tasbih di tangan kiri sedangkan tangan kanannya memgang tongkat hendak ke langgar (mushola atau masjid)”.(halaman 2, bagian kesatu)“Tapi lu jangan nyuruh gue melet. Haram tau ? miun kelabakan sebentar, dan kemudian coba membela diri”. (halaman 21, bagian kesatu)

2. Jenis dan Struktur Alur

Alur adalah jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan sebab-akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu, bulat, dan utuh.Jenis alur yang digunakan dalam novel ini adalah jenis alur maju, karena di dalam novel ini pengarang menceritakan urutan kejadian atau peristiwa secara berurutan.

Struktur Alur :

- Tahap Awal pengenalan

Bagian cerita berupa pengenalan tokoh, lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.Bukti :JAKARTA, di jaman Betawi, tahun 1820-an. Kampung Kwitang aktu itu masih merupakan “setengah hutan”, belum banyak penghuninya. Di antara rumah-rumah yang sedikit itu terdapatlah sebuah rumah beratap genting kepunyaan Samiun yang memiliki beberapa buah delman.

- Tahap pemunculan konflik

Bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku cerita.Bukti :“Ketika Samiun menemui dan meminta bantuan Wak Lihun untuk menyemburkan (melet) Nyai Dasima agar jatuh cinta kepada dirinya. Tetapi, di situ Wak Lihun menolaknya dengan tegas. Karena, menurutnya itu haram. Dan mengatakan bahwa Samiun akan ikut-ikutan kafir seperti Nyai Dasima yang berlaki kafir. Wak lihun juga mengatakan bahwa Samiun menginginkan Nyai Dasima bukan karena cinta, tapi karena hartanya”.-  

Tahap peningkatan konflik

Bukti :“Ketika Nyai Dasima datang ke rumahnya Mak Buyung dan memberitahukan bahwa Tuannya sudah tau bahwa dia suka datang ke sini (kampung, tempat tinggal Mak Buyung). Nyai Dasimah dihina oleh Tuan W sebagai orang kampung dan Tuannya amat marah. Saat itu , Nyai Dasima mengutarakan isi hatinya untuk dapat segera berkumpul dengan bangsanya sendiri. Mak buyung pun mengusul agar Nyai Dasima cerai dengan Tuan. Awalnya Nyai Dasima ragu untuk bercerai dengan Tuan, karena sudah begitu lama dengan Tuan. Tapi, cepat-cepat Mak Buyung memotong perkataan Nyai Dasima dan terus meyakinkan Nyai Dasima agar mau segera cerai dengan Tuan. Akhirnya Nyai Dasima pun terpengaruh oleh kata-kata Mak Buyung untuk cerai dengan Tuan agar dapat diakui lagi dengan orang tua dan bangsanya”.

- Tahap Klimaks

Pada tahap klimaks ini, konflik meningkat dan semakin ruwet.Bukti :“Dasima sudah menjadi istri muda Samiun dan tinggal di rumah Mak Buyung. Memang agak sulit, namun di sana Dasima mencoba menyesuaikan diri dengan tata cara hidup di kampung yang telah lama ditinggalkannya sejak hidup di “gedong” bersama “tuan”nya.Meskipun begitu, Dasima sering menderita akibat perbuatan Hayati yang penyakitnya berjudi (maen ceki) kian menjadi-jadi.Ketika itu Bang Puase bertemu dengan Dulo, seperti biasanya Bang Puase akan memalak. Melalu Dulo , Bang Puase mengetahui bahwa nanti malam akan ada pertunjukkan Amir Hamzah di Kampung Ketapang dan Nyai Dasima akan diajak nonton pertunjukkan itu oleh Samiun. Mendengar itu,dalam hati Bang Puase tersenyum jahat.”

- Tahap penyelesaian

Pada tahap ini, penyelesaian dapat dipaparkan oleh pengarang atau dapat juga menggantung.“Ketika Nyai Dasima di ajak nonton pertunjukkan Amir Hamzah oleh Samiun dan di tengah perjalanan, tepatnya di sebuah jembatan muncullah Bang Puase dengan kilau goloknya di tengah gelap malam itu. Dan tamatlah sudah riwayat Dasima di ujung golok Bang Puase. Malam kian larut. Detik-detik waktu mendorong fajar terbit, datanglah pagi. Dasima mati dibunuh Bang Puase, mayatnya ditemukan tersangkut di pinggir kali. Bang Puase berhasil ditangkap setelah dikepung oleh delapan orang polisi. Samiun juga dimasukkan ke dalam bui karena dianggap ikut bertanggung jawab atas “peristiwa berdarah” tadi malam”.

3. Latar

Merupakan lukisan peristiwa yang dialami oleh satu atau beberapa orang pada suatu waktu disuatu tempat dan dalam suasana tertentu.

- Latar tempat· Di Kampung Kwitang, rumah Samiun“ Diantara rumah-rumah itu terdapatlah sebuah rumah yang beratap genting kepunyaan Samiun ...” (halaman 1, bagian ke satu)· Langgar (mushola)“ Gue mau lohor dulu,” tapi Mak Leha mendadak berbalik.“ Eh, kalu Miun pulang, tulung bilangin die disuru nyusul Wak Lihun ke langgar. Ye ? Tunggu Miun di sini, ye?” (halaman 52, bagian kedua)· Rumah Mak Buyung“Dasima sudah menjadi istri muda Samiun dan tinggal di rumah Mak Buyung”(halaman 55, bagian ketiga)· Belakang rumah Mak Buyung, pinggir kali“ Biase,” jawab Hayati, lantas menghilang ke belakang rumah Mak Buyung menuju pinggir kali tempat berjudi, maen ceki. (halaman 35, bagian kesatu)· Jembatan“ Kejadiannya begitu cepat. Kelihatan Dasima berlari-lari di jembatan sambil berteriak-teriak.” (halaman 69, bagian ketiga)

- Latar waktu : JAKARTA, di jaman Betawi tahun 1820-an

- Latar suasana · RibutSuasana ribut pada novel ini digambarkan pada saat Hayati memarahi Dasima yang sedang makan. Dasima memperlihatkan piring yang berisi nasi kepada Hayati, tetapi malah ditepok oleh Hayati hingga nasi itu tumpah berserakan di lantai dan Hayati pun menyuruh Dasima untuk menyapu. Sementara Hayati menyapu, Hayati duduk sambil menaikkan kakinya dengan sombong dan sambil terus nyerocos. (halaman 61)· MenyedihkanSuasana menyedihkan digambarkan pada saat Dasima tinggal di rumah gedong bersama Tuan-nya. Hampir tiap malam, Tuan terima tamu bangsanya, tapi Dasima tidak bisa ikut mereka, Dasima tidak bisa ketawa-tawa bersama mereka, Dasima tidak mengerti omong mereka. Dan lebih parah lagi Dasima selalu dihina sebagai orang kampung. Tujuh tahun Dasima tersika jauh dari teman-teman, dari bangsa sendiri, dan orang tua. (halaman 14, bagian kesatu)· MenegangkanSuasana menegangkan pada novel ini digambarkan pada saat Dasima berlari-lari di jembatan sambil berteriak karena kejaran Bang Puase yang akan membunuhnya. (halaman 69)· BingungSuasana bingung digambarkan ketika Samiun terjepit antara keinginan untuk berbakti kepada orang tua, tetapi juga untuk menjalani pilihan hidupnya sendiri.Hayati adalah calon istri yang dipilihkan oleh almarhum ayahnya Samiun, untuk itu Samiun tidak boleh meninggalkan Hayati. Tetapi di sisi lain, Samiun juga ingin menikahi Dasima dan memiliki anak. Karena sudah menikah bertahun-tahun dengan Hayati belum juga memiliki seorang anak.(halaman 36)

4. Sudut pandang

Sudut pandang merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh.Dalam novel “Nyai Dasima” ini, pengarang sengaja memilih sudut pandang orang pertama tokoh utama, yaitu Dasima. Sudut pandang ini sengaja dipilih oleh pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.

5. Tema

Tema merupakan pokok pikiran atau isyarat dari pengarang mengenai inti dari permasalahan dalam cerita tersebut.Dalam novel “Nyai Dasima” ini pengarang mencoba menggambarkan sosok perempuan biasa yang berasal dari kampung (Dasima) yang diangkat menjadi seorang istri piara (gundik) dari bangsa putih (Tuan Edward Williams). Mereka memiliki satu orang anak yang bernama Nancy, tetapi mereka tidak menikah. Dasima hanya dijadikan gundik, bukan istri sah. Di dalam cerita ini, digambarkan bagaimana penderitaan seorang gundik yang hidup di rumah “gedong” dan bergelimpang harta, tetapi tidak dengan teman-teman, bangsa sendiri, dan orang tuanya. Di tengah perjalnan hidupnya, Dasima bimbang menentukan nasibnya. Ia ingin lepas dari Tuan-nya, ia ingin diakui bangsanya sendiri, orang tuanya, dan teman-teman. Hingga akhirnya ia menikah dengan Samiun, warga Kampung Kwitang yang memiliki beberapa delman. Ia bahagia dapat berkumpul dengan bangsanya, tetapi seakan derita tak mau lepas dari perjalanan hidupnya. Meskipun sudah menikah dan dijadikan sebagai istri kedua oleh Samiun, ia tetap menderita karena ulahnya Hayati (istri pertama). Hingga akhirnya Dasima meninggal karena dibunuh oleh Bang Puase, atas perintah Tuan Edward Williams.Atas dasar cerita singkat di atas, tema yang saya angkat dari novel “Nyai Dasima” ini adalah “Derita seorang gundik”. Melalui novel ini, pengarang seolah mengisyaratkan tentang penderitaan seorang istri piara (gundik).

3.2. Unsur Ekstrinsik

Nilai-nilai dalam cerita Dalam sebuah karya sastra terkandung nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain :

1. Bagian Pragmatik· 

 Nilai Moral

Yaitu nilai yang berkaitan dengan ahklak atau budi pekerti baik buruk.ada beberapa nilai moral yang terdapat dalam novel “Nyai Dasima” ini, antara lain :

§ Sudah seharusnya menjadi seorang istri itu taat kepada suaminya dan mengurusnya dengan baik. Bukan malah sibuk dengan urusannya sendiri, terlebih lagi urusannya itu adalah hal yang tidak baik, seperti yang diperankan oleh tokoh Hayati. Di dalam novel ini diceritakan bahwa Hayati adalah seorang istri yang tidak taat kepada suaminya (Samiun), dia malah sibuk dengan cekinya (judi).

§ Setiap manusia pasti mempunyai masalah dalam hidupnya, seperti halnya dengan Dasima. Dasima yang menjadi istri piara seorang asing yang bernama Tuan Edward Williams. Tinggal di rumah gedong tapi bukan dengan bangsanya sendiri, Dasima merasa sangat kesepian. Dasima selalu dihina sebagai orang kampung oleh Tuan-nya. Selama tujuh tahun Dasima diperlakukan seperti itu oleh Tuan-nya, tapi ia selalu bersabar dalam menghadapi nasib hidupnya itu.

§ Di dalam novel ini diceritakan Bang Puase adalah seorang preman yang mau melakukan apa saja asal mendapatkan uang, termasuk membunuh. Dari tokoh Bang Puase inilah dapat kita ketahui bahwa moral yang dimiliki oleh Bang Puase itu tidak baik. Mendapatkan uang dengan cara yang tidak baik, seperti membunuh yang dilakukan oleh Bang Puasepada akhirnya akan tidak baik pula. Di akhir cerita, Bang Puase dimasukkan ke dalam bui.

§ Wak Lihun yang di dalam novel ini diceritakan memiliki kepribadian yang baik, yaitu rajin beribadah dan taat kepada agamanya. Hal-hal yang baik seperti inilah yang dapat kita tiru dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

§ Dari tokoh Samiun dapat kita lihat bahwa ia adalah seorang suami yang tidak bisa bersikap adil dan memberikan kasih sayang yang sama dengan kedua istrinya. Awalnya ia sangat menginginkan Dasima menjadi seorang istri mudanya. Sebagai seorang suami dia tidak bisa melindungi Dasima dari kejahatan Hayati (istri pertama). Dari kejadian Samiun ini, kita dapat memetik sebuah nilai yang sangat penting bagi seorang laki-laki, yaitu jika memang merasa tidak bisa bersikap adil janganlah memiliki dua orang istri.

§ Tidak seharusnya kita mengambil sesuatu yang bukan milik kita secara paksa. Ini dapat kita lihat dari novel ini, ketika Hayati dengan paksa merebut kalung dan harta Dasima secara paksa.· 

Nilai religius

Yaitu nilai yang berkaitan dengan kepercayaan yang dianut.

§ Nilai religius dapat kita lihat dari tokoh Wak Lihun, ia taat terhadap agama dan rajin beribadah ke masjid.

§ Di dalam novel ini juga dijelaskan bahwa ilmu memelet itu tidak diperbolehkan oleh agama.· Nilai EstetikaYaitu nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan dalam karya sastra ( tentang bahasa, alur, tema )

§ Penggunaan bahasa betawi dalam novel ini menjadikan novel ini lebih indah.

§ Penggunaan kata “NYAI” untuk judul novel ini juga membuat orang penasaran untuk membacanya dan mengetahui tentang ceritanya.

2. Bagian Sosiologis· 

 Nilai Sosial

Yaitu hal-hal yang berkaitan dengan norma –norma dalam kehidupan masyarakat ( misalnya, saling memberi, menolong, dan tenggang rasa ).

§ Sudah seharusnya sebagai manusia saling menasehati satu sama lain. Jika ada yang akan melakukan sesuatu yang tidak baik. hal inilah yang dilakukan Wak Lihun kepada Samiun, ketika Samiun menyuruh Wak Lihun untuk memelet Dasima agar jatuh hati dan mau menikah dengannya.

§ Memalak dalam lingkungan sosial merupakan suatu perbuatan yang tidak baik. Perbuatan memalak dalam novel ini digambarkan oleh tokoh Bang Puase yang suka memalak Dulo atau Samiun meminta uang setoran. Dalam kehidupan bermasyarakat seharusnya kita saling menolong dan memberi terhadap sesama yang membutuhkan, bukan malah memalak.

§ Bermain ceki (berjudi) merupakan salah satu perbuatan yang melanggar norma dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat. Di dalam kehidupan bermasyarakat orang yang berjudi akan di anggap sebagai orang yang tidak baik. Dan orang yang melakukannya akan dijadikan bahan gunjingan lingkungan masyarakat.

§ Poligami atau mempunyai dua orang istri dalam kehidupan masyarakat merupakan suatu aib bagi keluarganya. Orang yang melakukan poligami juga akan mendapat sorotan yang tidak baik bagi lingkungan masyarakatnya. Selain itu, masyarakat akan selalu menggunjing mereka yang melakukan poligami. Masyarakat seakan ingin mengetahui segala sesuatu tentang keluarga yang melakukan poligami tersebut. Dan bagi istri kedua yang mau di pologami juga tak kalah mendapat sorotannya bagi lingkungan masyarakatnya. Karena, dimanapun perempuan tak mau jika harus di poligami atau di nomor duakan.· 

 Nilai Budaya

Yaitu konsep masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia ( misalnya adat istiadat ,kesenian, kepercayaan, upacara adat ).

§ Novel ini menceritakan tentang kehidupan di jaman Betawi tahun 1820-an. Pengaruh budaya Betawi dapat dilihat dari alat transportasinya, yaitu delman. Dimana pada jaman tersebut delman adalah transportasi yang laris dan biasa digunakan oleh masyarakatnya. Menarik delman pada jaman tersebut merupakan suatu pekerjaan yang cukup terpandang, karena uang yang dihasilkan dari menarik delman terhitung cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Selain itu juga penggunaan Bahasa Betawi juga merupakan upaya salah satu mempertahankan nilai budaya dari masyarakat Betawi. Karena dijaman sekarang, penggunaan Bahasa Betawi sudah mulai luntur. Mereka malu menggunakan Bahasa Betawi, karena logatnya yang nyablak.

§ Perbedaan ras, suku, bangsa, dan cinta menimbulkan diskriminasi yang sangat kental pada novel ini. Diskriminasi seolah sudah menjadi budaya pada jaman tersebut, dimana pada jaman tersebut penduduk pribumi dipandang sangat rendah oleh bangsa putih. Penduduk pribumi diperlakukan dengan seenaknya, di comot untuk ditempatkan hanya sebatas “bini piara” dan dijauhkan dari keluarganya. Di beri pakaian dan perhiasan yang mahal nan indah, namun tetap dibiarkan dalam kebodohan dan total keberadaannya semata diperuntukan sebagai objek penyaluran hasrat seksual bangsa putih.

4. Gaya Bahasa

Merupakan cara pengungkapan seorang pengarang yang khas. Setiap pengarang memiliki sesuatu yang khas dari karyanya, tidak mungkin sama. Dan di dalam novel “Nyai Dasima” ini S.M Ardan menggunakan bahasa yang berbeda dengan karya sastra pengarang lainnya. S.M Ardan memilih menggunakan bahasa orang betawi. Penggunaan Bahasa Betawi dalam novel “Nyai Dasima” ini sesuai dengan latar belakang dirinya yang merupakan seorang sastrawan betawi. Penggunaan kata “Nyai” dalam novel ini juga tidak tanpa alasan. S.M Ardan memandang kata “Nyai” ini sudah terlalu diselewengkan oleh kolonialisme. Bahkan direkonstruksi sedemikan rupa sehingga mencuat citra orang Betawi yang memiliki sifat yang jelek-jelek. Untuk itu, Ardan ingin merubah citra itu melalui novel “Nyai Dasima” ini


Sumber :

http://blogbukuhelvry.blogspot.co.id/2011/06/nyai-dasima.html?m=1

http://yenimerdika.blogspot.co.id/2014/11/makalah-analisis-novel-nyai-dasima.html?m=0

https://senjanaavonturir.wordpress.com/2016/03/11/kilas-balik-nyai-dasima-di-antara-s-m-ardan-dan-g-francis/

SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar